Semangat Presiden Wujudkan Ketahanan Pangan Belum Mampu Diwujudkan Para Menteri

Jumat, 21 Juni 2019 : 23:52
KRICOMNEWS - Impornya mayoritas kebutuhan pangan didalam negeri disebabkan karena belum mampunya seluruh pembantu Presiden yang membidangi bidang pangan mewujudkan semangat Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan swasembada pangan dan kedaulatan pangan.

Hal itu diungkapkan Buwas seusai panen raya kerjasama Perum Bulog dan Universitas Sebelas Maret, di Pabelan, Sukoharjo.

"Pak Presiden itu punya semangat betul untuk swasembada pangan, kedaulatan pangan. Tapi sampai hari ini tidak bisa tercapai kenapa. Karena, apa yang disampaikan pak presiden belum ditangkap secara utuh oleh pembantu-pbantunya yang membidani bidang itu," jelasnya.

Menurut Buwas, semangat yang digelorakan Presiden Jokowi agar Indonesia bisa mewujudkan swasembada pangan dan Kedaulatan pangan tidak bisa terwujud bila masalah pertanian dianggap hanya tanggung jawab dari Menteri Pertanian dan Bulog.

Bagaimana mungkin gelora yang disuarakan Presiden bisa diwujudkan bila seluruh lembaga Kementerian terkait dengan masalah pangan bersikap masa bodoh.

Mirisnya, hampir setiap tahunnya universitas - universitas di Indonesia banyak melahirkan sarjana pertanian. Namun, meski melahirkan banyak sarjana pertanian, namun pertanian di Indonesia masih kalah dibandingkan dengan negara lain.

"Yang lebih miris lagi ada lagi. Sarjana pertanian itu banyak. Berapa universitas di republik ini setiap tahunnya melahirkan sarjana pertanian tapi hari ini pertanian kita tidak hebat," jelasnya.

Namun Buwas tak mau menyalahkan siapa yang salah. Malah sebaliknya, Buwas pun menyadari bila sarjana pertanian lebih memilih pekerjaan yang lain.

Tak heran, ungkap Buwas, banyak sarjana pertanian yang lebih bekerja di perbankan, maupun sektor lainnya yang bisa memberikan harapan untuk kehidupannya.

"Bukan salahnya sarana, bukan salahnya perguruan tinggi yang mencetak. Karena tidak ada harapan hidup. Bila kondisi pertanian masih seperti ini. Makannya larinya ke perbankan. Makannya IPB itu institut perbankan Bogor. Dan ini saya sampaikan langsung ke pak rektor," jelas Buwas.

Buwas mencontohkan negara China. Menurut Buwas, dengan jumlah penduduk mencapai 1,6 miliar, ketahanan pangan China hingga 10 tahun dunia ini kondisinya Chaos.

"Kalau kita cuma 1-2 bulan megap-megap ini rawan. Dan di Cina itu semua masalah pangan itu dikuasai oleh negara tidak ada itu pengusaha yang bisa bermain dengan pangan. Makan di Cina itu murah, karena apa karena disubsidi oleh pemerintah untuk pangan.

Dan semua makanan di China itu higenis. Jadi semua makanan di China itu kesehatan dan kebersihannya di jamin oleh pemerintah," pungkasnya. (Bra/Adi)
Share this Article
Previous Article
Next Article
Copyright © 2019 Kricomnews - All Rights Reserved
Design by Ginastel.com